Definisi
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan
kadar Hemoglobin di bawah 11 g% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5
g% pada trimester II. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi
wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester II(2).
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena
kekurangan zat besi dan merupakan jenis anemia yang pengobatannya relative
mudah(1).
Kejadian anemia merupakan masalah
gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkit lebih dari 600 juta
manusia.Dengan frekuensi yang cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 35%. Pada
tahun 2007 WHO melaporkan bahwa prevalensi ibu hamil yang mengalami defisiensi
besi di Filiphina berkisar 55%, Thailand 45%, Malaysia 30% dan Singapura 7%(3).
Di Indonesia pada tahun 2010 angka
kejadian anemia masih cukup tinggi yaitu sekitar 50-70 juta jiwa, anemia
defisiensi besi (anemia yang disebabkan kurang zat besi) mencapai 20%-33%.
Parahnya lagi 40,1% anemia dialami wanita hamil dengan batas bawah 11 gr/dl(3).
Di Jawa Barat pada tahun 2010 angka kejadian Anemia
pada ibu hamil masih terbilang cukup tinggi yaitu sekitar 40-43% kasus pada ibu
hamil yang menderita anemia(4).
Pada tahun 2011 di Kabupaten Subang terlaporkan kasus
ibu hamil anemia sebanyak 1902 atau 5,37 % kasus dan pada tahun 2012 sebanyak
1548 atau 4,39 % kasus(7).
Jumlah kasus ibu hamil anemia di Puskesmas Pamanukan
Kabupaten Subang tahun 2012 sebanyak 71 atau 5,28 % kasus dan jumlah kasus ibu
hamil dengan anemia di Desa Pamanukan Hilir Kecamatan Pamanukan Kabupaten Subang
sebanyak 14 atau 25,9 % kasus(8).
Penyebab
Pada pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa
kebanyakan anemia yang diderita masyarakat adalah karena kekurangan zat besi
yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan
gizi. Selain itu didaerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan malnutrisi
ataukekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan
ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah(1).
Anemia disebabkan oleh :
1.
Rusaknya butir darah merah
2.
Ganguan pembentukan darah akibat beberapa bahan esensial seperti
kekurangan zat besi, vit. B kompleks, vit C dan asam folat.
3.
Kehilangan darah baik yang kaut maupun kronis (perdarahan, cacing
tambang) (2).
Gejala Klinis
Gejala klinis dari anemia adalah keluhan lelah, pucat, mudah pingsan sementara tensi
masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik
dapat dilihat tubuh yang malnutrisi, pucat(2).
Diagnosis
Anemia pada Kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat
dilakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah,
sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual-muntah lebih hebat pada
hamil muda(1).
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan
menggunakan alat Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat
digolongkan sebagai berikut:
Hb 11 g% Tidak
Anemia
Hb 9-10 g% Anemia
Ringan
Hb 7-8 g% Anemia
Sedang
Hb < 7 g% Anemia
Berat
Pemeriksaan darah
dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada trimester I dan
trimester II. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami
anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu
hamil di puskesmas(1).
Anemia Pada Kehamilan dan Janin
Bahaya Selama
Kehamilan
Anemia
dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan,
persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat
timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiranprematurs,
persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia
uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim
(atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin, serta
anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia
akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan(23).
Pengaruh
anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal: berat badan kurang, plasenta
previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa intranatal dapat terjadi
tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa pascanatal
dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada
neonatus : premature, apgar scor rendah, gawat janin(23).
Bahaya
pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus
premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim,
asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan
dekompensasi kordis hingga kematian ibu(24).
Dapat terjadi abortus, persalinan prematurus,
hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman
dekompensasi kordis (Hb <6 gr%), mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD)
(1).
Bahaya Saat
Persalinan
Gangguan his (kekuatan mengejan), kala pertama dapat berlangsung lama dan
terjadi partus terlantar, kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelhkan
dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, kala uri dapat diikuti
retensio plasenta dan perdarahan postpartum karena atonia uteri, kala empat
dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri(1).
Bahaya Pada Saat Nifas
Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan
postpartum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi
dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, mudah
terjadi infeksi mamae(1).
Bahaya Terhadap Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu mneyerap berbagai kebutuhan dari ibunya,
tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat
terjadi gangguan dalam bentuk : abortus, kematian intrauterin, persalinan
prematuritas tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat
terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal dan
inteligensia rendah(1).
Pengobatan
Anemia dalam Kehamilan
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu
hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data
dasar kesehatan umum calon ibu tersebut. Dalam pemeriksaan kesehatan disertai
pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan feses sehingga diketahui adanya
infeksi parasit(1).
Pengobatan infeksi untuk cacing relatif mudah dan
murah. Pemerintah telah menyediakan preparat besi untuk dibagikan kepada
masyarakat sampai ke posyandu. Contoh preparat Fe diantaranya Barralat,
Biosanbe, Iberet, Vitonal dan Hemaviton. Semua preparat tersebut dapat dibeli
dengan bebas(1).
Terima kasih informasinya.
BalasHapusBolehkah saya mendapatkan sumber data tentang prevalensi anemia pada bumil di Jawa Barat yang Anda sebutkan sebesar 40 - 43% pada tahun 2010? Saya memerlukannya untuk melengkapi literatur saya.
Terima kasih banyak!