Kamis, 02 Mei 2013

anemia


Definisi
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah 11 g% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5 g% pada trimester II. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester II(2).
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi dan merupakan jenis anemia yang pengobatannya relative mudah(1).
Kejadian anemia merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkit lebih dari 600 juta manusia.Dengan frekuensi yang cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 35%. Pada tahun 2007 WHO melaporkan bahwa prevalensi ibu hamil yang mengalami defisiensi besi di Filiphina berkisar 55%, Thailand 45%, Malaysia 30% dan Singapura 7%(3).
Di Indonesia pada tahun 2010 angka kejadian anemia masih cukup tinggi yaitu sekitar 50-70 juta jiwa, anemia defisiensi besi (anemia yang disebabkan kurang zat besi) mencapai 20%-33%. Parahnya lagi 40,1% anemia dialami wanita hamil dengan batas bawah 11 gr/dl(3).
Di Jawa Barat pada tahun 2010 angka kejadian Anemia pada ibu hamil masih terbilang cukup tinggi yaitu sekitar 40-43% kasus pada ibu hamil yang menderita anemia(4).
Pada tahun 2011 di Kabupaten Subang terlaporkan kasus ibu hamil anemia sebanyak 1902 atau 5,37 % kasus dan pada tahun 2012 sebanyak 1548 atau 4,39 % kasus(7).
Jumlah kasus ibu hamil anemia di Puskesmas Pamanukan Kabupaten Subang tahun 2012 sebanyak 71 atau 5,28 % kasus dan jumlah kasus ibu hamil dengan anemia di Desa Pamanukan Hilir Kecamatan Pamanukan Kabupaten Subang sebanyak 14 atau 25,9 % kasus(8).

Penyebab
Pada pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat adalah karena kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi. Selain itu didaerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan malnutrisi ataukekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah(1).
            Anemia disebabkan oleh :
1.      Rusaknya butir darah merah
2.      Ganguan pembentukan darah akibat beberapa bahan esensial seperti kekurangan zat besi, vit. B kompleks, vit C dan asam folat.
3.      Kehilangan darah baik yang kaut maupun kronis (perdarahan, cacing tambang) (2).

Gejala Klinis
Gejala klinis dari anemia adalah keluhan lelah, pucat, mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi, pucat(2).

Diagnosis Anemia pada Kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual-muntah lebih hebat pada hamil muda(1).
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
Hb 11 g%              Tidak Anemia
Hb 9-10 g%           Anemia Ringan
Hb 7-8 g%             Anemia Sedang
Hb < 7 g%             Anemia Berat 
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester II. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di puskesmas(1).

Anemia Pada Kehamilan dan Janin
Bahaya Selama Kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiranprematurs, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan(23).
Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal: berat badan kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada neonatus : premature, apgar scor rendah, gawat janin(23).
Bahaya pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu(24).  
Dapat terjadi abortus, persalinan prematurus, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman dekompensasi kordis (Hb <6 gr%), mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD) (1)
         Bahaya Saat Persalinan 
Gangguan his (kekuatan mengejan), kala pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelhkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, kala uri dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan postpartum karena atonia uteri, kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri(1)
Bahaya Pada Saat Nifas
Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae(1).
 Bahaya Terhadap Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu mneyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk : abortus, kematian intrauterin, persalinan prematuritas tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal dan inteligensia rendah(1).
 
                        Pengobatan Anemia dalam Kehamilan
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut. Dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan feses sehingga diketahui adanya infeksi parasit(1).
Pengobatan infeksi untuk cacing relatif mudah dan murah. Pemerintah telah menyediakan preparat besi untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke posyandu. Contoh preparat Fe diantaranya Barralat, Biosanbe, Iberet, Vitonal dan Hemaviton. Semua preparat tersebut dapat dibeli dengan bebas(1).








1 komentar:

  1. Terima kasih informasinya.
    Bolehkah saya mendapatkan sumber data tentang prevalensi anemia pada bumil di Jawa Barat yang Anda sebutkan sebesar 40 - 43% pada tahun 2010? Saya memerlukannya untuk melengkapi literatur saya.
    Terima kasih banyak!

    BalasHapus